BERITA

Lima Tips Menulis Ilmiah Populer
2019/04/22 - 08:50 am | 90 KLIK

_BOGOR_“Menulis ilmiah populer itu sulit”, atau “lebih mudah menulis ilmiah dibandingkan dengan ilmiah populer”, adalah pernyataan yang kerap terlontar ketika membicarakan pembuatan artikel ilmiah populer. Bagi para pakar yang terbiasa membuat karya tulis ilmiah, menulis ilmiah populer bisa dibilang merupakan satu kesulitan tersendiri.

Artikel ilmiah populer diartikan sebagai artikel ilmiah yang ditulis dengan gaya bahasa populer (bahasa media/bahasa jurnalistik) untuk dimuat di media massa seperti  surat kabar, majalah, tabloid, media online, dan sebagainya). Kategori penulisan ilmiah populer meliputi komunikasi pendek, buku teks, monografi, hingga tulisan kompilasi.

Lima tips di bawah ini mencoba memberikan kisi-kisi tentang menulis ilmiah populer. Dengan mengetahuinya, menulis ilmiah populer akan terasa lebih menarik dan lebih mudah.

 

1. Carilah hal yang menarik, bermanfaat, dan unik

Dari berbagai bahan tulisan, cari poin-poin yang menarik, bermanfaat, dan unik bagi masyarakat umum. Sumber tulisan bisa berasal dari jurnal, tulisan ilmiah, laporan hasil perjalanan ke lapangan, atau hasil penelitian. Termasuk di dalamnya adalah data lapangan yang walaupun belum dituangkan ke dalam bentuk laporan, namun memiliki potensi ketiga hal tersebut.

Agar tulisan dapat memenuhi target ‘menari, bermanfaat, dan unik', di saat menulis, anggap kita sedang ngobrol dengan pembaca. Buatlah seolah-olah kita sedang berdialog dengan mereka.

Setelah draf tulisan bergaya ‘ngobrol’ selesai, bila memungkinkan, berikan pada satu atau dua orang terdekat kita dan minta tanggapannya. Setelah itu, sunting draf tulisan yang telah diberi masukan dengan gaya penulisan masing-masing untuk disempurnakan dan kemudian dimuat/dikirimkan ke media tujuan.

 

2. Tentukan media pemuat

Penting untuk memperhatikan kemana tulisan ilmiah populer tersebut akan dilabuhkan. Artinya, kita dapat menentukan media sebagai tempat kita memuat artikel tersebut. Media dapat berupa majalah ilmiah populer, website resmi kantor/institusi, Kompasiana, blog pribadi hingga facebook dan instagram.

Pilihan media mengakibatkan perlunya melihat ketentuan penulisan di media tujuan. Tiap media memiliki ketentuan dan kriteria tersendiri untuk tulisan/artikel  yang dapat dimuat, kecuali media (sosial) milik sendiri.

 

3. Hindari istilah-istilah ilmiah

Unsur utama yang membedakan tulisan ilmiah dengan ilmiah populer adalah bahasa yang digunakan. Ilmiah populer meniadakan penggunaan bahasa ilmiah sama sekali. Bahasa yang digunakan adalah bahasa umum yang mudah dipahami pembaca umum. Istilah ilmiah harus diganti dengan istilah ataupun pengertian umum, mudah dimengerti, dan variatif.

Kendati demikian, penulisan ilmiah populer tetap harus memperhatikan tata aturan dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dan kata-kata baku dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (PUEBI/KBBI). Dalam memudahkan identifikasi kata, kita dapat menggunakan layanan eja kata di internet menggunakan smartphone.

 

4. Dukung tulisan dengan alat bantu

Untuk menarik minat pembaca, artikel ilmiah populer perlu didukung 'alat bantu' yang dapat berupa grafik, foto, infografik, hingga kutipan wawancara langsung.  Bahkan, diperbolehkan untuk menyisipkan opini demi menguatkan maksud penulis.

Foto dapat menguatkan tulisan namun seringkali terlupakan karena kehilangan momen. Disarankan agar sedini mungkin penulis sudah  memikirkan artikel apa yang akan dibuat dan foto apa saja yang akan diambil.

Misalnya, kita akan ke lapangan meneliti primata dan kaitannya dengan pemukiman. Dalam perencanaan, mulailah mencatat foto-foto apa saja yang akan diambil agar dapat selaras dengan isi tulisan. Dari ide itu, perlu diambil foto plang nama desa (di kantor desa), suasana pemukiman, petani/warga desa yang diwawancarai, beberapa jenis primata, dan suasana hutan sekilas untuk memperlihatkan kondisi hutan yang berdampak kepada kondisi primata saat itu.

 

5. Sampaikan pesan utama di awal tulisan

Di masa sekarang, waktu membaca setiap orang sudah semakin singkat. Sekarang adalah zaman instan, serba cepat. Menulislah sesegera mungkin dan menyampaikan pesan utama di awal agar pembaca tertarik meneruskan bacaannya hingga ke pesan-pesan berikutnya.

Penyampaian pesan utama serta pesan-pesan lain dalam tulisan, sejak awal dapat dilatih. Caranya adalah memperkuat kemampuan mempara-frasakan suatu kalimat (dari tulisan asalnya) dengan mengalih-bahasakan ke dalam bentuk penulisan yang sederhana, padat, komunikatif, dan menarik.

 

Bila belum mulai menulis, mulailah menulis dan terus menulis. Berlatihlah menulis dengan menulis. Hambatan utama dalam menulis adalah terlalu banyak berpikir atau terlalu banyak pertimbangan. Mulailah menulis secara padat dan singkat, misalnya 500-an kata yang secara bertahap ditingkatkan. Tetaplah mengingat media pemuat tulisan tersebut (seperti telah dijelaskan sebelumnya).

Semoga bermanfaat.


(sumber: pengalaman pribadi saat menulis ilmiah populer dan didukung oleh berbagai sumber)

Artikel ini pertama kali ditayangkan di Kompasiana dengan judul 5 Tips Menulis Ilmiah Populer

 

 

Penulis: Bugi Kabul Sumirat

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 99
Total pengunjung : 45491
Hits hari ini : 240
Total Hits : 601086
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015