BERITA

Kang Bugi Bagi-bagi Tips di UNAS
2019/05/07 - 03:35 am | 175 KLIK

_JAKARTA_ Kang Bugi, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) berkesempatan memberikan pelatihan menulis ilmiah populer kepada mahasiswa Universitas Nasional (UNAS) pada Sabtu (20/04/2019). Pelatihan tersebut merupakan kegiatan kolaborasi antara Kelompok Mahasiswa Fakultas Biologi (Himabio) UNAS, Forum Studi Primata Lutung (Lutung FSP), dan Komunitas Kompasiana Vlomaya (Vlogger Kompasiana Pemerhati Budaya).

Dalam pelatihan satu hari ini, pria bernama asli Bugi Kabul Sumirat tersebut memberikan materi berdasarkan Lima Tips Menulis Ilmiah Populer. Ia pernah menulis artikel berdasarkan tips tersebut yang dimuat dalam link berikut ini.

Hal pertama yang ia tekankan adalah menulis ilmiah populer bukan sesuatu yang menakutkan, tapi menyenangkan. Itu ia kemukakan karena banyak yang berpendapat bahwa menulis ilmiah populer lebih sulit dibandingkan dengan menulis ilmiah.

“Penulisan artikel ilmiah populer dianggap lebih sulit karena melihat kepada target pembacanya. Bila penulisan ilmiah menggunakan metode yang sudah baku dan konsumen pembacanya sudah lebih jelas - kebanyakan berdasarkan latar belakang keilmuan yang sama”, paparnya.

Tidak demikian halnya dengan tulisan ilmiah populer, menurut Kang Bugi. Peneliti bidang sosiologi kehutanan ini mengatakan tulisan ilmiah populer menyasar pembaca yang lebih beragam.

“Tulisan ilmiah populer akan dibaca oleh berbagai kalangan yang tertarik akan tulisan tersebut - tanpa melihat latar belakang, tanpa melihat tingkat keilmuan dari si pembaca. Sehingga tulisannya mengutamakan keharusan menyajikan tulisan yang renyah, menarik, dan enak dibaca”, jelas Kang Bugi.

Dalam proses meramu agar tulisan ilmiah populer menjadi menarik, Kang Bugi mengatakan perlunya penulis memikirkan hal-hal yang dapat memunculkan ketertarikan seorang pembaca, di tiap kalimatnya. Judul, tema, dan gaya penulisan menjadi faktor penting untuk memperoleh tekanan lebih.

“Penyajian artikel ilmiah populer perlu memperhatikan ketertarikan bagi pembacanya di setiap paragraf, di setiap kalimat. Bila tidak, besar kemungkinan pembaca hanya akan membaca di awal tulisan, tetapi kemudian tidak melanjutkannya hingga ke akhir tulisan. Hal ini harus menjadi perhatian untuk dihindari”, ujarnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa menulis ilmiah populer tidak memerlukan latar belakang keilmuan yang sama dengan tulisan yang akan ditulis. Seseorang yang berlatar belakang ilmu statistik, dimungkinkan untuk menulis artikel ilmiah populer tentang ikan lumba-lumba, sepanjang datanya mendukung.

“Dalam menulis ilmiah populer, yang dituntut bukanlah sebuah keahlian terhadap sebuah bidang penelitian melainkan ‘sense’ seorang penulis untuk mampu memposisikan dirinya sebagai kalangan awam”, tutur Kang Bugi.

Di akhir pembicaraannya, Kang Bugi mengingatkan bahwa sebuah hasil penelitian adalah hal yang sangat berharga. Sayangnya, akses informasinya masih terbatas untuk kalangan ilmiah (akademisi). Bagaimana agar kalangan umum juga dapat mengakses informasi itu?

Tulisan ilmiah populer adalah jawabannya. Ia akan menjadi ‘jembatan’ sehingga informasi penelitian yang ruwet dan berat dapat dikonsumsi secara asyik oleh kalangan umum.

“Ayo kita perbanyak menulis ilmiah populer, karena sangat besar manfaatnya. Luar biasa bukan?” pungkasnya.


Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Bugi Kabul Sumirat


 
Pengunjung hari ini : 75
Total pengunjung : 47604
Hits hari ini : 209
Total Hits : 627996
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015