BERITA

Tak Kenal Maka Tak Sayang
2019/05/23 - 03:10 am | 37 KLIK

_PALANGKARAYA_“Tak kenal maka tak sayang”, demikian pepatah yang sering kita dengar. Selama 5 hari, 20-24 Mei 2019, tim “Gambut Kita” yang terdiri dari peneliti Puslitbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim/P3SEKPI (Yanto Rochmayanto, Mohamad Iqbal, dan Niken Sakuntaladewi) beserta peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan/BP2LHK Banjarbaru (Adnan Ardhana dan Muhammad Abdul Qirom) berbincang dengan perwakilan pemangku kepentingan dari instansi pemerintah, LSM, serta tokoh masyarakat di Palangkaraya dan Kabupaten Pulang Pisau. Pertanyaan sederhana diajukan untuk mengetahui apa yang para pemangku kepentingan ketahui tentang gambut yang ada di sekeliling mereka, tindakan apa yang sudah mereka lakukan selama ini terhadap gambut di sekelilingnya, kendala yang mereka hadapi, serta upaya mengatasinya.

Menarik untuk diketahui bahwa para pemangku kepentingan mempunyai pemahaman yang beragam terhadap “gambut”. Pemahaman mereka umumnya didapat dari pengalaman pribadi atau yang mereka lihat sehari-hari di sekeliling mereka. Pemanfaatan lahan gambut untuk ditanami jelutung, blangiran, sengon, nanas, mete, semangka, ternak ikan, hingga kerusakan gambut, kebakaran dan kebanjiran adalah beberapa kata kunci yang didapat. Di sisi lain banyak upaya yang dilakukan dari masing-masing instansi/organisasi untuk mencegah terjadinya kebakaran atau mengatasi kebakaran di lahan gambut, mulai dari pembasahan lahan gambut melalui pembuatan tabat dan sumur bor, pembentukan kelompok masyarakat peduli api (MPA), peningkatan produktivitas lahan gambut, pendampingan, hingga kegiatan penelitian. Mereka sangat percaya diri dalam menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan, namun beberapa di antaranya terlihat sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan “Apa yang mungkin akan mereka rasakan bila gambut di sekeliling mereka hilang/punah?”

Banyak sekali kegiatan yang telah dilakukan untuk “gambut” dan untuk masyarakat yang tinggal di lahan gambut di Kabupaten Pulang Pisau. Hasil diskusi tadi menggambarkan keterkaitan antara “pengetahuan” dengan “tindakan”, menghasilkan peta pemangku kepentingan (stakeholders) di Pulang Pisau yang pada akhirnya dapat digunakan untuk meningkatkan pengelolaan lahan gambut di Kabupaten Pulang Pisau.

Kini, mereka telah berkenalan dengan “Gambut Kita”. Pepatah di atas mungkin berlanjut menjadi “Setelah Kenal Maka Gambut Semakin Disayang”.

 

Penulis: Niken Sakuntala Dewi

Editor: Mohamad Iqbal; Hariono


 
Pengunjung hari ini : 59
Total pengunjung : 45967
Hits hari ini : 149
Total Hits : 609693
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015