BERITA

MMR dan SRN adalah Kunci
2019/10/31 - 01:10 pm | 1572502318 KLIK

_BOGOR_Program penurunan emisi di Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2020-2024 terus bergulir. Salah satu tahap yang penting dilakukan adalah sosialisasi sistem measurement, monitoring, and reporting (MMR) dan Sistem Registri Nasional (SRN) kepada parapihak terkait di Kaltim.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) yang diwakili Yanto Rochmayanto –peneliti P3SEKPI- mengatakan, sosialisasi MMR dan SRN merupakan bagian dari fase persiapan (readiness phase) implementasi REDD+ di Kaltim. Ia dan tim telah mengembangkan sistem MMR yang disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia, khususnya Kaltim.

“Kami telah mengembangkan dan merencanakan sistem MMR yang sesuai dengan mekanisme di tingkat nasional dan aplikabel di tingkat Provinsi Kaltim. Hal itu antara lain mencakup kegiatan pelatihan, penyusunan kelembagaan MMR, perbaikan data aktivitas, perbaikan faktor emisi, reklasifkasi tutupan lahan hutan, serta integrasi plot NFI dengan FCPF,” tutur Yanto dalam pembukaan Sosialisasi MMR dan SRN di Sangatta, Kaltim pada Selasa (22/10/2019).

Dalam implementasinya, Yanto mengatakan bahwa program penurunan emisi di Kaltim memerlukan kualitas data tutupan lahan yang baik. Selain itu, ia menegaskan bahwa implementasi tersebut harus dapat dilakukan oleh Pemprov Kaltim.

“Salah satu aspek yang menentukan kualitas data tutupan lahan adalah kedetilan tingkat klasifikasi tutupan lahan”, sebut Yanto.

Untuk mengakomodir hal itu, Yanto menjelaskan harus ada Standar Operational Procedure (SOP) untuk menghitung kedetilan tersebut. Kini, SOP itu sedang diproses oleh tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

“Untuk itu diperlukan SOP QC/QA penghitungan akurasi dan ketidakpastian tutupan lahan dan perubahan tutupan lahan. Saat ini SOP tersebut sedang disusun oleh Tim KLHK, yaitu Direktorat IPSDH, Direktorat IGRK, BLI”, ujar Yanto

Yanto memandang, program penurunan emisi di Kaltim sejatinya bukan untuk Kaltim saja, namun untuk dunia. Karena itu ia berharap agar segala aktivitas harus direkam dengan baik, dan MMR-SRN adalah kuncinya.

“Upaya penurunan emisi melalui REDD+ di Kalimantan Timur ini bukan untuk kita, Kaltim, atau Indonesia saja, tapi juga kontribusi Kaltim untuk dunia. Jadi, apa yang kita lakukan di hutan kita perlu diketahui oleh orang lain sehingga harus dilaporkan melalui sistem MMR dan SRN”, pungkas Yanto.

Dalam melaksanakan program penurunan emisi di Kaltim, P3SEKPI bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) kaltim, Dewan Daerah Perubahan Iklim (DDPI) Kaltim, Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring Pelaporan dan Verfikasi, dan Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan (IPSDH). Kerja besar tersebut dilakukan melalui skema FCPF-Carbon Fund dari the World Bank.

Selain tim kerja, Sosialisasi Sistem MMR dan SRN ini dihadiri oleh pihak lain, yakni Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (Ditjen PPI), perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) provinsi dan kabupaten, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), pemerintah kampung, dan para mitra pembangunan sektor swasta dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

 

Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 6
Total pengunjung : 53663
Hits hari ini : 45
Total Hits : 710170
Pengunjung Online : 3
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015