BERITA

Belajar Branding BLI
2019/11/26 - 09:44 am | 1574736331 KLIK

_MALANG_Pada 13-16 November 2019, kami berkesempatan mengikuti Workshop Branding Badan Litbang dan Inovasi di Hotel 1O1 Malang OJ, Klojen, Malang. Dipandu oleh Tim Inpirasi Tanpa Batas (Inspirit), kami belajar memahami apa itu branding dan bagaimana melakukannya.

Kegiatan dibuka oleh Kepala BLI yang diwakili oleh Kepala Pusat Litbang Hutan, Dr. Kirsfianti Ginoga. Ia mengatakan bahwa workshop ini menjadi jalan untuk membangun BLI sebagai brand yang memiliki ciri khas dan menghasilkan value creation yang tinggi. Dengan demikian maka daya tarik inovasi akan meningkat sehingga lebih mudah mendapat kepercayaan dan loyalitas pengguna.

Guna berbagi cerita mengenai upaya melakukan branding, maka dihadirkan 3 narasumber yakni Ade Sudrajat (The 1O1 Hotel Malang OJ), Novia Kusuma Wardana (Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru), dan Sri Winarni (Pemerintah Kota Malang).

Selain mendapatkan berbagai cerita inspiratif, para peserta yang terdiri dari tim data dan informasi lingkup BLI juga berkesempatan unjuk aksi. Tiap tim berkesempatan untuk menginformasikan kehebatan lembaganya melalui video blog (blog) atau paparan dengan waktu maksimal 3 menit.

Strategi awal digital marketing BLI juga menjadi materi bahasan. Bagaimana membangun arsitektur digital marketing di internet, bagaimana persiapan dalam memanfaatkan perkembangan teknologi di era 4.0. Kuncinya adalah identitas, konsisten, dan totalitas.

 

Pertama, Brand

Define what your brand stands for, its core values, and tone of voice, and then communicate consistently in those terms. -Simon Mainworing

Hal pertama yang kami pelajari adalah: sebelum melakukan branding, kita harus memahami apa itu brand. Brand didefinisikan sebagai nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semuanya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa atau kelompok penjual dan untuk mendiferensiasikannya atau membedakan dari barang atau jasa pesaing (Kotler, 2009).

Sebagi contoh, dalam mem-branding Kota Malang, Pemerintah Kota Malang mengedepankan tiga hal, yakni pendidikan, industri, dan pariwisata, terangkum dalam slogan “Beautiful Malang”. Hal itu tercermin dalam perkembangan Kota Malang yang dipaparkan oleh Sri. Dalam beberapa tahun terkahir, Pemerintah Kota Malang terus-menerus meningkatkan fasilitas pendidikan.

Tentang pariwisata, Sri mengatakan, Kota Malang sangat strategis karena ada di segitiga emas Malang Raya: Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Untuk itu Pemerintah Kota berusaha untuk meningkatkan pengelolaan 3 icon wisata tersebut. Hasilnya, tiap tahun muncul 10 hotel baru yang tentu akan meningkatkan perekonomian Kota Malang. 

Sebelum melakukan branding, kita harus memahami bagaimana brand yang kita miliki. Dany dari Inspirit menjelaskan, memahami brand kita merupakan tahap awal dari branding. Tahap ini yang kemudian disebut sebagai brand identity.

Dalam brand identity, kita harus mampu menjawab pertanyaan seputar identitas, antara lain siapa kita, mengapa kita ada, dan bergerak di bidang apa. Dany mengatakan, semakin spesifik kita mampu menjawabnya maka semakin baik. Karena semakin detail memahami brand kita, maka kita akan melihat pembeda dengan yang lain.

Langkah selanjutnya adalah kita harus memiliki sebuah gambaran seperti apa kita ingin dikenal. Apa yang membedakan kita dengan yang lain.

Langkah terkahir dalam brand identity adalah menerjemahkan jawaban-jawaban tadi ke dalam berebagai bentuk: keyword, message, dan logo. Keyword (2-3 kata) berarti kata kunci apa yang kita ingin orang pikirkan tentang kita. Message berarti slogan, misalnya P3SEKPI punya slogan committed to excellence.

 

Lalu, Branding

Branding adds spirit and a soul to what would otherwise be a robotic, automated, generic price-value proposition. –David Aaker

Branding adalah sebuah proses yang disiplin untuk membangun kesadaran (awareness) dan kesetiaan (loyalty) khalayak mengenai kita (Citra, 2019). Proses tersebut dilakukan terus-menerus hingga memenuhi ruang-ruang yang ada, dibarengi kretifitas.

Dalam melakukan branding, ada beberapa elemen yang harus diperhatikan. Pertama adalah brand voice. Jika kita membayangkan BLI adalah seorang manusia, seperti apa sosoknya? Apakah ia sosok yang bersahabat, formal, atau menginspirasi? Seperti apa gaya bahasa yang digunakan? Serius, sederhana, atau menyenangkan?

Brand voice atau yang bisa juga disebut tone of communications, mengupas gaya seperti apa yang akan menjadi personality BLI dalam berkomunikasi dengan khalayak. Sepertinya ini terdengar konyol, namun kenyatannya inilah yang sedang dibangun oleh berbagai institusi, baik ia berupa perusahaan maupun kantor pemerintahan.


Kedua adalah brand visual. Tone of communiation yang telah ditentukan kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk visual appearance. Kita menentukan bagaimana logo, warna, dan tipografi yang akan digunakan secara konsisten. Dany mengatakan kata-kata yang sedikit nakal namun benar, “branding hanya omong kosong jika tak dilakukan secara terus-menerus dan totalitas”.

Ketiga adalah kreatifitas. Berfikir berbeda, berfikir berkebalikan, atau apapun istilahnya, menjadi pilar penting ketika ingin melakukan branding. Bahkan dengan kreatifitas, sebuah institusi dapat menekan anggaran branding.

Ade Sudrajat mengatakan, ketika ia dipindah tugas ke Hotel 1O1 Malang OJ, ia punya tugas berat untuk mengangkat brand Hotel. 1O1 Hotel Malang OJ merupakan hotel yang terbilang baru dan memiliki banyak saingan yang sudah cukup mapan seperti Hotel Santika. Tugas tersebut semakin berat mengingat anggaran untuk promosi tidak banyak.

Mau tidak mau ia harus berfikir secara “tidak seperti kebanyakan”. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengidentifikasi potensi yang ada. Lalu ia melihat satu hal: di Kota Malang, ada banyak sekolah dan universitas.

Seperti diketahui, sebuah sekolah dan universitas pasti melaksanakan wisuda tiap tahunnya. Ade kemudian mencoba mendekati pihak manajemen sekolah dan universitas. Pada awalnya ia mencoba pendekatan formal, dengan mengirim surat dan mengobrol dengan humas. Namun tidak ada tanggapan hingga ia menyadari cara itu tidak efektif karena tidak meninggalkan kesan.

Akhirnya ia mencoba mencari informasi tentang aktivitas pimpinan manajemen sekolah dan universitas. Ternyata pimpinan tesebut secara rutin sebulan sekali melakukan senam pagi di lingkungan sekolah. Ia dan tim datang ketika kegiatan senam tersebut dan menyediakan coffee break secara gratis. Pada kesempatan informal tersebut, ia dapat mengobrol secara langsung dengan pimpinan tersebut hingga terjalin pertemanan. Terbukti, Hotel 101 Malang menjadi langganan wisuda sekolah tersebut. Semua dilakukan bermodalkan anggaran untuk coffe break.

Teknik coffee break juga ia lakukan ketika mencoba mendekati masyarakat Malang. Ia menggali informasi di mana titik keramaian Kota Malang. Akhirnya ia tahu bahwa tiap minggu, banyak warga Kota Malang yang berkumpul di car free day untuk berolahrga dan sebagainya. Ia pun mulai melancarakan aksinya dengan hadir, menyediakan coffee break, dan berbaur dengan masyarakat. Lambat laun warga mulai mengetahui Hotel 101 Malang OJ.

Tak berhenti sampai di situ, ia kerap mendekati berbagai media lokal. Mengundang pada sebuah acara, memberi makan dan nginap secara gratis. Kesempatan itu ia gunakan untuk berkenalan dengan para wartawan. Hasilnya kegiatan-kegiatan 101 Hotel OJ sering muncul di media tanpa ia harus mengeluarkan uang sedikitpun untuk biaya promosi.


Penulis: Faisal Fadjri

Editor: Hariono


 
Pengunjung hari ini : 6
Total pengunjung : 53663
Hits hari ini : 29
Total Hits : 710154
Pengunjung Online : 3
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015