BERITA

LIPI: MASYARAKAT TAK SIAP HADAPI PERUBAHAN IKLIM
2015/02/11 - 12:44 am | 569 KLIK

Perubahan iklim kini telah berdampak pada pola kehidupan berbagai kalangan masyarakat dewasa ini. Berubahnya siklus lingkungan membuat masyarakat manjadi bingung, khususnya bagi petani dan nelayan. Menurut Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)mengungkapkan bahwa perubahan jangka waktu musim yang sangat cepat berubah memaksa para petani dan nelayan menghadapi ketidakpastian prakiraan angin dan cuaca.

Bagian Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Deny Hidayati, dalam Seminar Diseminasi Kajian Kependudukan dan Perubahan Lingkungan di Kantor LIPI, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (03/02), menyayangkan masyarakat yang tidak siap beradaptasi dengan perubahan lingkungan tersebut. Padahal, mereka adalah subjek yang terkena dampak langsung dari perubahan iklim.

Dalam risetnya ia beberkan bahwa petani menghadapi kesulitan tanah dan air, apalagi selama ini mereka mengalami ketergantungan sangat tinggi pada pestisida. Melihat kondisi yang kini terjadi memaksa para petani membuat sebuah embung, cekungan penampungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai air hujan.

Deny mengatakan akibat ketidakpastian cuaca, jadwal melaut nelayan makin menurun, membatasi wilayah tangkap hingga beralih menjadi nelayan turis. Menurut Deny perubahan iklim juga tak disadari berdampak pada masyarakat miskin kota yang mengalami penurunan ketersediaan air bersih, serta suhu udara yang terasa makin panas.

"Masyarakat miskin kota akhirnya membeli air dari pedagang air, akses mahal, bahkan mereka sampai menampung air hujan. Perubahan iklim yang terjadi itu tak direspon oleh pemerintah pusat dan daerah," jelasnya.

Solusi Bagi Nelayan dan Petani Menghadapi Perubahan Iklim

Patokan musim hujan dan kemarau yang diyakini selama ini kerap meleset, sementara prakiraan cuaca yang dipublikasikan BMKG hanya prakiraan cuaca nasional. Tentu hal ini menyulitkan petani dan nelayan lokal.

Deny memiliki solusi prakiraan cuaca berbasis wilayah lokal, jadi mulailah untuk cek prediksi cuaca di stasiun yang terdekat.

Deny berharap prediksi cuaca lokal juga bisa dibuat secara berkala misalnya harian, mingguan atau tahunan.Jika prakiraan cuaca ini tersedia, maka sangat membantu para petani dan nelayan untuk menjalankan aktivitasnya.

“Institusi pemerintah terkait, misalnya dinas pertanian, bisa memakai prakiraan cuaca lokal untuk menentukan pola tanaman yang cocok kepada para petani,” ujarnya.

Deny merasa perlu menekankan prakiraan cuaca lokal, sebab selama ini pola atau jadwal tanam yang dirilis dinas pertanian cenderung pakem dari pusat alias top-down dan berpaku pada prakiraan cuaca musiman nasional. Pola ini, kata dia, kadang tak sesuai dengan perkembangan wilayah lokal.

Perbaiki komunikasi

Peneliti berhijab ini menambahkan selain prakiraan cuaca lokal, pemerintah perlu segera memperbaiki cara komunikasi saat bersosialisasi dengan masyarakat petani atau nelayan.

Biasanya, penyuluhan yang disampaikan bersifat satu arah, bukan melibatkan masyarakat dalam diskusi. Cara penyuluhan juga cenderung top-down. "Coba sosialisasi dengan menggunakan radio komunitas, kan itu langsung menyentuh mereka," ujar Deny.

Deny juga menyoroti kemampuan dan pengetahuan penyuluh lapangan yang terbatas, khususnya soal perubahan iklim. "Pengetahuan perubahan iklim penyuluh perlu diperbaharui," kata Deny.


Sumber: www.medialingkungan.com


 
Pengunjung hari ini : 98
Total pengunjung : 45491
Hits hari ini : 226
Total Hits : 601072
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015