KEGIATAN

FGD Kegiatan Kerjasama Penelitian Enhancing smallholder benefits from Reduced Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Indonesia, di Palangkaraya
2015/02/25 - 03:33 am | 808 Klik

Bertempat di kantor Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, kegiatan kerasama penelitian Enhancing Smallholder Benefits from Reduced Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Indonesia  melaksanakan Focused Group Discussion (FGD) yang dihadiri oleh Tim Peneliti dan staf dari Puspijak, perwakilan Lembaga swadaya masyarakat seperti AMAN Kalimantan Tengah, serta instansi terkait seperti staf BLHD Kalimantan Tengah, TN Sebangau, serta perwakilan kelompok masyarakat lainnya.

FGD diawali dengan sambutan oleh Kepala Dinas Kehutanan yang dalam sambutannya menyampaikan profil pembangunan kehutanann berupa capaian dan kendala dalam pelaksanaan pembangunan sektor kehutanan di Provinsi Kalimantan Tengah. Sambutan dilanjutkan oleh Ir. Achmad Pribadi., MSc. yang mewakili Kepala Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan (Puspijak). Dalam sambutannya, Ir. Achmad Pribadi., MSc. menyampaikan terima kasih atas sambutan dan respon positif dari pihak Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berkaitan dengan dipilihnya Provinsi Kalimantan Tengah sebagai lokasi penelitian juga atas ketersediaan para pihak dalam memberikan data dan informasi yang diperlukan oleh Tim Peneliti.

FGD dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai status terkini kebijakan, program, kegiatan, dan inisiatif persiapan dan pelaksanaan REDD+ di tingkat provinsi. FGD menghasilkan beberapa informasi kunci antara lain :

  1. Peran masyarakat dalam upaya pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan sangat penting terutama dalam menjaga wilayah adat dari gangguan dan telah mengubah perilaku pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan. Namun demikian masyarakat sseringkali tidak memahami bahwa upaya mereka sudah memebrikan kontribusi kepada program REDD+
  2. Hingga saat kebijakan atau peraturan di tingkat provinsi dan kabupaten masih yang mampu mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaa hutan dan mendukung REDD+ dirasa masih kurang  Perda tentang kawasan adat, dan kepastian RTRWP
  3. Mekanisme pembagian manfaat pengelolaan sumberdaya alam (hutan) di kalangan masyarakat adat dianggap telah memadai untuk dapat menjadi acuan pembagian manfaat REDD+.

 

Mengenai kegiatan kerjasama “Enhancing smallholder benefits from reduced emissions from deforestation and forest degradation in Indonesia”, kegiatan kerjasama penelitian ini didasari oleh pemikiran bahwa dalam pelaksanaan REDD+ terutama terkait dengan pemerataan distribusi manfaat yang efektif dan efisien kepada semua pihak yang terkait dengan implementasi REDD+ termasuk masyarakat pemilik lahan dan pengguna sumberdaya hutan, perlu adanya suatu dukungan dalam bentuk kajian yang komprehensif. Beranjak dari pemikiran tersebut maka Badan Litbang Kehutanan c.q. Puspijak bersama ACIAR dan Australian National University bekerja sama melakukan sebuah kerjasama penelitian dengan judul kegiatan ACIAR FST/2012/040: “Enhancing smallholder benefits from reduced emissions from deforestation and forest degradation in Indonesia”.

Kerjasama penelitian ini bertujuan untuk melakukan penelitian yang mendukung pengembangan dan pemantauan kebijakan terkait dengan kelembagaan di tingkat nasional, provinsi dan lokal untuk memfasilitasi pelaksanaan REDD+ secara efektif, dan pemerataan manfaat kepada para pihak, terutama masyarakat. Tujuan khususnya adalah untuk: (1) Mendukung pengembangan kelembagaan dan mekanisme fiskal untuk REDD+ yang menghubungkan implementasi di tingkat nasional dengan tingkat lokal; (2) Mengidentifikasi opsi-opsi untuk melindungi kepentingan masyarakat sekitar hutan/petani kecil dan mendorong keterlibatan sektor swasta dalam mekanisme pembagian manfaat; dan (3) Memperbaiki desain dan kinerja kebijakan dan kegiatan REDD+.

Provisi Kalimantan Tengah dipilih sebagai lokasi penelitian kegiatan Enhancing Smallholder Benefits from Reduced Emissions from Deforestation and Forest Degradation in Indonesia   didasarkan oleh beberapa hal sebagai berikut :

  1. Provinsi Kalimantan Tengah Fase I dinilai sudah lebih maju (advanced)  dalam kegiatan REDD+, selain ingin melihat juga dampak dari proyek Kalimantan Forest Climate Partnership (KFCP) yang pernah dilakukan di Provinsi Kalimantan Tengah
  2. Kajian dilakukan untuk melihat kebijakan-kebijakan apa saja di Provinsi Kalteng yang dianggap mendorong atau menhgambat implementasi REDD+
  3. Kajian ingin melihat juga dampak kegiatan REDD+ bagi smallholders

Lokasi penelitian di Kalimantan Tengan meliputi : Kabupaten Kapuas (hutan lindung ex KFCP), Kabupaten Pulang Pisau (TN Sebangau), Kabupaten Gunung Mas (lokasi hutan adat)


 
Pengunjung hari ini : 76
Total pengunjung : 47604
Hits hari ini : 250
Total Hits : 628037
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015