KEGIATAN

FGD Penyusunan Metodologi Penilaian Mandiri (Self Assessment) Kesiapan Implementasi REDD+ Indonesia
2016/09/07 - 02:31 am | 471 Klik

Dalam rangka penyusunan Readiness Package, sebagai prasyarat REDD+ countries di Indonesia, maka Pusat Litbang Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk membantu dalam menyusun metodologi penilaian mandiri (self assessment) kesiapan implementasi REDD+. Kepala P3SEKPI, Dr. Bambang Suprianto, M.Sc. menyampaikan bahwa saat ini FCPF (Forest Carbon Partnership Facility) sedang menyusun ERPD (Emission Reduction Program Document) sebagai tahapan penting dalam proses Carbon Fund. Sebagai kelengkapan ERPD maka diperlukan Readiness Packageuntuk menilai seberapa siap Indonesia dalam mengimplementasikan program REDD+ ke depannya. Demikian sambutan Kepala P3SEKPI pada pembukaan acara “Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Metodologi Penilaian Mandiri (Self Assessment) Kesiapan Implementasi REDD+ Indonesia” di Hotel Menara Peninsula, Kamis (1/09).

Sebelum FGD berlangsung, diadakan pula presentasi mengenai kegiatan REDD+ di Indonesia yang berlangsung selama ini. Presentasi ini dibagi menjadi 4 (empat)topikyang dijabarkan sebagai berikut:

Topik 1: Progress REDD+ di Indonesia pada setiap komponen

Topik ini disampaikan oleh 4 (empat) narasumber, pertama, Ir. Emma Rachmawaty, M.Sc (Direktur Mitigasi Perubahan Iklim)menyampaikan tentang strategi nasional REDD+, kebijakan, peraturan dan tata kelola (governance). Kedua, Dr. Belinda Margono, M.Sc (Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Pemantauan, Pelaporan dan Verifikasi, Ditjen PPI) menyampaikan tentangprogress dalam FREL (Forest Reference Emission Level), NFMS (National Forest Monitoring System) dan MRV (Measuring, Reporting and Verification) untuk mendukung REDD+. Ketiga, Ir. Achmad Gunawan Wicaksono, MAS (Direktur Mobilisasi Sumberdaya Sektoral dan Regional) menyampaikan tentang progress dalam funding instrument dan benefit sharing mechanism untuk mendukung REDD+, dan keempat, Ir. Novia Widyaningtyas, M.Sc(Direktorat Mitigasi Perubahan Iklim, Ditjen PPI) menyampaikan tentang progress dalam safeguard information system untuk mendukung REDD+.

Topik 2: Identifikasi opsi metodologi penilaian mandiri (self assessment) kesiapan REDD+ Indonesia, dan topik 3: Pembahasan atribut dan variabel penilaian

Pada topik kedua dan ketiga dilakukan diskusi langsung. Muhammad Farid (UNDP) selaku moderator menyampaikan bahwa dalam melakukan self assessment harus diketahui bagaimana posisi Indonesia dalam melakukan guidance dari COP (Conference of Parties) yang telah disepakati. Farid juga menyarankan perlu diadakan pertemuan multi pihak sekali lagi yang akan menyampaikan hasil FGD ini.

Selain itumasih pada diskusi yang sama, Dr. Niken Sakuntaladewi, M.Sc (P3SEKPI) menyarankan agar kebijakan dan regulasi yang ada perlu diklasifikasikan. “Terkait dengan standar apa yang akan digunakan itu merupakan challenge bagi kita semua”, demikian ujarnya.

Topik 4: Kesiapan REDD+ Indonesia: Pembelajaran dari lapangan

Topik keempat merupakan sharingpengalaman dari beberapa pihak di lapangan dalam memperkuat metode self assessment kesiapan REDD+. Hadir selaku narasumber diantaranya, Arif Data Kusuma dari WWF (World Wildlife Fund) menyampaikan tentang pembelajaran dalam proses konsultasi, partisipasi masyarakat, dan REDD+ outreach di Kabupaten Barat. Kemudian Kusworo dari FFI-IP (Flora & Fauna International-Indonesia Program) menyampaikan tentang pembelajaran pelaksanaan REDD+ di tingkat desa di Kalimantan Barat,sedangkan sharing tentang pembelajaran pelaksanaan REDD+ di tingkat kabupaten di Kabupaten Berau disampaikan oleh Delon Marthinus dari TNC (The Nature Conservancy). Sebagai narasumber terakhir, Stephanie Wegscheider dari GIZ Forclime menyampaikantentang pembelajaran dalam pelaksanaan pengukuran dan pelaporan emisi GRK dari hutan berbasis partisipasi masyarakat.

Pada sesi terakhir dilakukan pembagian 4 kelompok untuk FGD dimana masing-masing kelompok membahas beberapa aspek diantaranya tentang (1) strategi nasional REDD+, kebijakan, peraturan dan tata kelola (governance), (2) FREL, NFMS dan MRV, (3)funding instrument dan benefit sharing mechanism dan (4)Safeguard information system.Sebagai penutup, hasil FGD ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai pencapaian kesiapan REDD+ di Indonesia dan tersedianya opsi-opsi metodologi penilaian kesiapan relatif REDD+ di Indonesia.***


 
Pengunjung hari ini : 30
Total pengunjung : 34482
Hits hari ini : 59
Total Hits : 505392
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015