KEGIATAN

Peran Stakeholder dalam Pengembangan Ekonomi Hijau untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan
2018/03/16 - 04:40 am | 103 Klik

Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim (DPPPI) kembali menyelenggarakan Pojok Iklim pada Rabu (15/03) di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Manggala Wanabakti dengan tema “Peran Stakeholder dalam Pengembangan Ekonomi Hijau untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.”

Tertunjuk sebagai moderator adalah Kepala Pusat Standarisasi Lingkungan, Noer Adi Wardojo. Stakeholder yang terlibat sebagai pembicara adalah Daddy Ruhiyat dari Dewan Daerah Perubahan Iklim Kalimantan Timur, Abdullah Taibe dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bantaeng, Maidiward dari Direktorat Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) KLHK, dan Willie Smith dari Arsari Enviro Industri.

Pemaparan materi pertama oleh Daddy Ruhiyat yang menjelaskan tentang posisi Kalimantan Timur sebagai provinsi yang berkonsentrasi terhadap upaya pengendalian perubahan iklim. Upaya tersebut dijewantahkan dalam berbagai strategi, antara lain penyusunan master plan yang kemudian disahkan dalam Peraturan Daerah tahun 2015.

Kedua adalah Abdullah Taibe yang memaparkan sepak terjang Kabupaten Bantaeng dalam pengelolaan lingkungan hidup. Komitmen dalam pengelolaan lingkungan hidup tertuang dalam berbagai program. Jum’at Bersih, gotong royong membersihkan lingkungan sekitar yang rutin diadakan setiap hari Jum’at; Sabtu Menanam yakni kegiatan penanaman pohon, terutama di pinggir jalan utama.

Ketiga yaitu Maidiward yang menjabarkan Direktorat KPHP dalam melakukan rekonfigurasi bisnis di hutan produksi melalui usaha mengubah tren dari akses usaha korporasi ke akses usaha masyarakat dan dari orientasi kayu ke hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan Jasa Lingkungan (Jasling). Rekonfigurasi tersebut dijewantahkan dalam empat skema.

Skema tersebut yakni kemitraan dalam bentuk hutan tanaman industri (HTI); kemitraan dalam bentuk tanaman kehidupan; pemanfaatan hutan non perizinan melalui kerjasama pada KPH untuk BUM Desa, UMKM, Koperasi; dan kerjasama penggunaan dan pemanfaatan kawasan hutan untuk mendukung ketahanan pangan yang berfokus pada empat komoditi strategis yaitu tebu, pado, jagung, dan sapi.

Terkahir, Willie Smith menjelaskan usaha Arsari Enviro Industri dalam merehabilitasi kawasan hutan bekas terbakar dengan menanam pohon singkong secara tumpangsari. Dengan metode ini, hara yang dihasilkan dapat diurai oleh tanaman tersebut dan menghasilkan nilai ekonomi untuk masyarakat. Selain singkong, ditanam pula pohon lain seperti aren. Sistem ini merupakan investasi yang berkelanjutan untuk masyarakat.


 
Pengunjung hari ini : 64
Total pengunjung : 39635
Hits hari ini : 124
Total Hits : 544905
Pengunjung Online : 1
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015