KEGIATAN

sharing knowledge dan research experience bersama Sajogyo Institute
2018/03/22 - 09:03 am | 108 Klik

 

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) menyelenggarakan sharing knowledge dan research experience pada Selasa (20/03) di ruang rapat P3SEKPI. Kegiatan ini menghadirkan  Budiono Zaini dari Sajogyo Intitute, seorang peneliti bidang tenurial yang mendalami isu-isu sosial , ditemani Handoyo dan kawan-kawan dari Kelti (Kelompok Peneliti) Politik dan Hukum Kehutanan sebagai penggagas. Kegiatan digelar untuk membuka cakrawala mengenai riset sosial.

Di awal kegiatan, Budi menjelaskan mengenai keilmuan sosial. Keilmuan sosial atau riset sosial memiliki “wilayah” untuk memahami persitiwa yang terjadi dalam suatu bentang alam dan kebijakan apa yang mempengaruhi lanskap alam. Ia mendemonstrasikan tiga pola cara baca perubahan sosial yakni pola panjang, pola menengah, dan pola pendek. Pola panjang yakni dengan melihat struktur bentang alam atau geografi; pola menengah, dilihat dari konjungstur (deretan dinamika kegiatan ekonomi yang terjadi dari waktu ke waktu); dan pola pendek, dilihat dari peristiwa (kebijakan, politik, dan lain-lain).

Pendalaman ketiga pola tersebut serta hubungannya akan digunakan untuk memahami suatu perubahan sosial, seperti yang terjadi di Moti, Maluku Utara. Masyarakat yang semula menjadikan sagu sebagai kebutuhan pokok, kini tergantikan oleh beras.

Melalui pendalaman ketiga pola cara baca tadi, dapat diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu perubahan sosial. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah pola-pola tersebut dipakai hanya untuk membaca suatu kejadian secara garis besar. Pendalamannya, dapat menggunakan berbagai metode pendekatan lain, antara lain analisis kebijakan.

Kegiatan semakin dinamis dengan adanya sharing dari peneliti P3SEKPI. Rachman Effendy dari Kelti Ekonomi Kehutanan, mencoba menyikapi dampak kebijakan Pemerintah Pusat terhadap masyarakat pelosok. Ia mengatakan bahwa beberapa kebijakan seringkali membuat masyarakat pedalaman kehilangan budayanya. Satu sisi kebijakan yang diturunkan, mefasilitasi masyarakat dalam berbagai aspek; namun di sisi lain mereka kehilangan daur pengetahuan lokalnya.

Kushartati dari Kelti Politik dan Hukum Kehutanan memperkaya diskusi dengan menyoal aktivitas konversi lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit. Ia menjelaskan bahwa terjadi banyak perubahan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar lahan konversi kelapa sawit dimana mereka kehilangan berbagai hal seperti tempat berburu dan mencari obat-obatan dari alam. Aktivitas berburu yang tadinya hanya membutuhkan waktu setengah hari, kini sampai butuh waktu seminggu. 


 
Pengunjung hari ini : 25
Total pengunjung : 38087
Hits hari ini : 46
Total Hits : 532253
Pengunjung Online : 2
 
© Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim 2015